banner 728x250

Pemkot Bandung Siapkan Program Psikolog ke Sekolah, Orang Tua Diminta Tak Anti Asesmen

banner 120x600

Jabar – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyoroti serius kondisi kesehatan mental anak dan remaja. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, hal ini menjadi alarm bagi Pemkot Bandung untuk memperkuat langkah pencegahan dan intervensi dini.

“Kita sedang gelisah. Anak-anak kita sedang menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya,” kata Farhan saat sambutan di acara Pembukaan Muskerwil II PW Pemudi Persis Jawa Barat, Minggu 8 Februari 2026.

Farhan mengungkapkan, gangguan kesehatan mental tidak muncul secara tiba-tiba. Stres yang berkepanjangan dapat berkembang menjadi depresi dan pada kondisi ekstrem, mendorong munculnya pikiran bunuh diri.

Menurutnya, persoalan ini harus dipahami sebagai tragedi kemanusiaan yang membutuhkan empati dan penanganan komprehensif.

Ia juga menyinggung pengaruh tekanan sosial di era digital yang membuat anak-anak lebih rentan. Jika dulu ejekan hanya terjadi di lingkungan sekolah, kini perundungan dapat menyebar luas melalui media sosial dan disaksikan publik secara masif.

“Sekarang satu kesalahan bisa ditertawakan satu dunia. Tekanan psikologisnya jauh lebih berat. Ini berbahaya kalau kita anggap sepele,” jelasnya.

Sebagai langkah konkret, Pemkot Bandung tengah menyiapkan program intervensi kesehatan mental di sekolah. Program ini akan melibatkan guru Bimbingan Konseling (BK), psikolog, serta psikolog klinis untuk melakukan asesmen dan pendampingan langsung kepada siswa.

Farhan mengimbau para orang tua agar tidak tersinggung atau menolak ketika anak mereka masuk dalam asesmen kesehatan mental. Ia menekankan asesmen bukan bentuk pelabelan negatif, melainkan upaya perlindungan dini agar anak mendapatkan dukungan yang tepat.

“Bukan berarti anak kita dianggap bermasalah. Justru ini bentuk kepedulian. Apa yang dialami anak-anak di luar rumah sering kali di luar jangkauan orang tua,” ujarnya.

Selain intervensi psikologis, Farhan menekankan pentingnya penguatan literasi digital sebagai bagian dari pencegahan. Kemampuan anak menyaring informasi, menghadapi perundungan daring serta mengelola tekanan sosial di ruang digital dinilai krusial untuk menjaga kesehatan mental generasi muda.

“Penguatan literasi digital penting karena sebagai bagian dari pencegahan, kemampuan anak dalam menyaring informasi serta dapat memahami situasi media sosial,” tuturnya. (rd/ky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *